Tampilkan postingan dengan label wonogiri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wonogiri. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 September 2014

Halal Bihalal Desa Platarejo 2014

Desa Platarejo punya cara tersendiri merayakan Hari Raya Idul Fitri. Inti perayaan memang sama dengan daerah lain, yaitu halal bihalal. Namun setiap tahun acara halal bihalal ini dikemas dengan acara yang berbeda-beda. Seperti tahun ini halal bihalal dikemas dengan tausiah mengundang ustadz dari luar, tahun sebelumnya mengundang kelompok musik (dangdutan), dll. Kegitan digelar dengan menarik dan meriah. Selain sebagai ajang halal-bihalal  acara ini juga dijadikan ajang reuni, temu kangen warga asli dengan warga rantau. Sebagai informasi banyak warga Platarejo yang merantau ke kota. Inilah yang menurut saya membuat acara halal bihalal desa selalu berkesan. 
Baik, sebelum saya memaparkan detail kegiatan perayaan kita bahas dulu makna dari halal bihalal. Dalam rangka Idul Fitri, umat Islam Indonesia sibuk melaksanakan apa yang disebut halal bi halal. Bagi mereka yang melaksanakannya, hal itu bermakna, “ saya mohon maaf atas segala kesalahan saya kepada anda. Sebaliknya, saya sudah memaafkan terlebih dahulu kesalahan anda kepada saya, bila ada.” Dengan kata lain halal bihalal dapat diartikan sebagai ungkapan untuk saling mengikhlaskan atau saling memaafkan satu sama lain. Hal ini sejalan dengan pesan yang dibawa oleh Islam tentang tindakan saling memaafkan dalam interaksi sesama manusia.

Senin, 15 September 2014

Meriahnya HUT Wonogiri ke 272

       Puncak perayaan HUT Wonogiri yang ke-272 dilaksanakan pada hari Rabu ,22 Mei 2013. Puncak perayaan ini diisi dengan acara pawai budaya yang diselenggarakan secara meriah. Mulai dari perwakilan pelajar (TK-SMA), perusahaan-perusahaan, dinas-dinas, TNI-Polri, bahkan samapai organisasi silat pun tak mau kalah ambil bagian memeriahkan pawai budaya ini.
     Tempat start pawai ini dibagi menjadi dua. Pertama Karnaval Budaya PAUD/TK/SD yang diberangkatkan dari Alun-alun Kabupaten menuju Lapangan Sukorejo pukul 08.00 WIB, sedangkan lokasi kedua Karnaval Budaya SMP/SMA sederajat, Umum dan SKPD yang akan diberangkatkan dari Lapangan Pringgondani Wonokarto Wonogiri menuju Lapangan Sukorejo pada pukul 10.00 WIB. 
     Berbagai atraksi budaya ditampilkan dalam acara ini. Dan semuanya secara keseluruhan berlangsung menarik dan meriah walaupun warga yang akan menonton harus rela panas-panasan. Memang ketika itu ribuan warga menonton pawai budaya di sepanjang rute yang dilalui. Yang menonton pun tidak hanya dari kota saja tapi banyak pula yang dari dea. Bahkan ada yang dari Purwantoro, Baturetno, Platarejo yang jauh-jauh datang khusus untuk melihat tontonan ini. Mereka harus rela berdesakan di bawah terik matahari yang panas untuk bisa melihat dari dekat atraksi budaya yang ditampilkan.

Kamis, 03 November 2011

Rasulan, Bersih Lahir dan Batin


Rasulan atau bersih desa adalah suatu ritual untuk membersihkan desa baik secara fisik maupun batin. Fisik dalam artian membersihkan lingkungan sekitar. Biasanya dengan membersihkan sekitar rumah lalu dilanjutkan kerja bakti bersih desa. Sedangkan batin berarti membersihkan jiwa masing-masing pribadi untuk ke depannya lebih baik.
Sebenarnya rasulan sendiri sudah mengalami pergeseran arti. Dahulu rasulan adalah suatu ritual untuk mengusir makhluk halus agar tidak mengganggu desa. Selain itu juga sebagai rasa syukur kepada sang Pencipta terhadap panen yang didapat. Sekarang sudah berubah sesuai perkembangan jaman.
Rasulan adalah suatu tradisi yang sudah berlangsung sejak. Biasanya di tempat lain tradisi ini di sebut dengan tradisi merti dusun atau merti desa. Rasulan diadakan setelah selesai melakukan panen dan merupakan acara yang diadakan oleh masyarakat sebagai ungkapan syukur atas panen yang diberikan oleh Sang Pemberi rejeki. Biasanya kegiatan rasulan ini diselenggarakan per pedukuhan/ dusun dengan waktu pelaksanaan yang berbeda- beda.

Rabu, 12 Oktober 2011

Biografi Pangeran Samber Nyawa





Biografi Pangeran Samber Nyawa terdiri dari jalan hidup yang panjang dan berliku. Namun agar supaya kita dapat mengerti dan memberi nilai yang sewajarnya kepada perjuangan Pangeran Sambernyawa, sebaiknya kita mengerti terlebih dahulu sistem politik VOC ( Verenigde Oost Indische Compagnie ) ialah Perserikatan Dagang Bangsa Belanda yang beroperasi di Indonesia dalam abad ke 17 Masehi, sampai akhir abad ke 18.Bangsa Indonesia menyebut VOC itu dengan nama Kompeni Belanda atau " Kompeni " saja.

Senin, 03 Oktober 2011

RITUAL JAMASAN PUSAKA MANGKUNEGARAN


Selayang Pandang


Tradisi kebudayaan Jawa selalu eksotis dan misterius. Pergelarannya selalu dipenuhi makna mistis dan membuat penasaran. Upacara jamasan atau siraman pusaka Mangkunegaran di Kecamatan Selogiri, Wonogiri, Jawa Tengah, mencerminkan itu semua.
Upacara jamasan pusaka Mangkunegaran adalah upacara men-jamas atau memandikan dua buah keris dan sebuah tombak peninggalan Raden Mas Said atau Mangkunegara I yang disimpan di Selogiri. Dua keris sakti tersebut memiliki nama-nama yang unik, yaitu Kyai Koriwelang dan Kyai Jaladara, sedangkan tombaknya bernama Kyai Totok.
Syahdan, ketika Belanda mulai masuk ke Gunung Wijil, Selogiri, Raden Mas Said menggunakan senjata-senjata pusaka tersebut untuk memerangi Belanda. Dengan dibantu rakyat Selogiri, Belanda pun berhasil diusir. Setelah itu, Raden Mas Said kembali ke Mangkunegaran, keris dan tombak tersebut turut dibawa pulang. Pada tahun 1935, saat Mangkunegara VII berkuasa, sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada rakyat Selogir, keris dan tombak pusaka Raden Mas Said tersebut diserahkan kepada masyarakat dan kerabatnya yang berada di Selogiri, yakni keturunan dari Rara Rubiah atau Raden Ayu Patah Aji, istri Raden Said.
Saat ini, pusaka-pusaka tersebut tersimpan dalam sebuah kotak yang diletakkan di atas sebuah tugu berukuran 7—7 meter dan tinggi 6 meter. Untuk menghormati dan menjaga kesaktian serta kekeramatan pusaka-pusaka tersebut, tiap setahun sekali masyarakat Selogiri mengadakan upacara jamasan atau pemandian.
Bagi sebagian masyarakat Selogiri, benda-benda pusaka tersebut dianggap mempunyai kekuatan gaib yang akan mendatangkan berkah apabila dirawat dengan cara dibersihkan atau dimandikan. Selain itu, fungsi lain dari jamasan adalah agar senjata-senjata pusaka tersebut tidak lekas berkarat dan dapat bertahan lama.

Sabtu, 16 Juli 2011

WONOGIRI: Deskripsi


1) Situasi Alam WonogiriGeografi Wonogiri terletak di 7 º 32 '- 8 º 15' Lintang Selatan dan Bujur 110 º 41 '- 111 º 18' bujur timur. Wonogiri posisi sangat strategis karena terletak di ujung selatan Provinsi Jawa Tengah, dan diapit oleh Provinsi Jawa Timur dan Propinsi DIY. Luas total 182,236.02 hektar Wonogiri. Administratif dibagi menjadi 25 Kecamatan, 43 Kecamatan dan 251 Desa. Kondisi alam pegunungan berbatu kapur sebagian besar, terutama di selatan, yang meliputi Pegunungan Seribu dan merupakan mata air Solo.

WONOGIRI: Sejarah dan Asal-usul

Sejarah pembentukan Kabupaten Wonogiri tidak bisa terlepas dari perjalanan hidup dan perjuangan Raden Mas Said atau dikenal dengan julukan Pangeran Sambernyawa. Asal kata Wonogiri sendiri berasal dari bahasa Jawa wana (alas/hutan/sawah) dan giri (gunung/pegunungan). Nama ini tepat menggambarkan kondisi wilayah Kabupaten Wonogiri dahulu yang memang sebagian besar berupa sawah, hutan dan gunung.
Pemerintahan di Kabupaten Wonogiri awal mulanya merupakan suatu daerah basis perjuangan Raden Mas Said dalam menentang penjajahan Belanda. Raden Mas Said lahir di Kartasuro pada hari Minggu, 8 April 1725. Raden Mas Said merupakan putra dari Kanjeng Pangeran Aryo Mangkunegoro dan Raden Ayu Wulan yang wafat saat melahirkannya. Memasuki usia dua tahun, Raden Mas Said harus kehilangan ayahandanya karena dibuang oleh Belanda ke Tanah Kaap (Ceylon) atau Srilanka. 
Hal itu karena ulah keji berupa fitnah dari Kanjeng Ratu dan Patih Danurejo. Akibatnya, Raden Mas Said mengalami masa kecil yang jauh dari selayaknya seorang bangsawan Keraton. Raden Mas Said menghabiskan masa kecil bersama anak-anak para abdi dalem lainnya, sehingga mengerti betul bagaimana kehidupan kawula alit. Hikmah dibalik itulah yang menempa Raden Mas Said menjadi seorang yang mempunyai sifat peduli terhadap sesama dan kebersamaan yang tinggi karena kedekatan beliau dengan abdi dalem yang merupakan rakyat kecil biasa.

WONOGIRI DENGAN SEJUTA POTENSI

Pandangan Wonogiri adalah daerah yang tandus, berbatu, sulit air merupakan pandangan yang sudah kuno. Hamparan wilayah yang berbatu, tandus dan bergunung-gunung tidak menjanjikan untuk suatu daerah adalah suatu penilaian yang salah. Dengan kejelian pemanfaatan geografis disertai ide-ide brilian mengubah keterbatasan menjadi kelebihan. Di balik daerah berbatu di Wonogiri ternyata menyimpan potensi wisata yang bagus karena menawarkan sesuatu yang berbeda dengan yang lainnya. Wonogiri masa kini adalah daerah yang mempunyai sejuta potensi yang mengagumkan. Baik pariwisata, budaya, maupun potensi alamnya.

suatu cerita sudut wilayah WONOGIRI


Platarejo merupakan salah satu desa di selatan kabupaten Wonogiri. Tempatnya masih asri, jauh dari polusi. Pemandangan sekeliling desa juga sangat menakjubkan dengan hamparan sawah yang membentang indah. Bukti dari keelokan desa Platarejo dengan adanya beberapa obyek wisata di desa tersebut, mulai dari Waduk Nawangan, Goa Platar, Goa Maria, Sendang Pucung, Gedong, dan lain sebagainya.
Khusus untuk Sendang Pucung dan Gedong, asal usul kedua tempat tersebut menarik untuk dipelajari karena mengandung nilai satra dan sudah dipercaya warga sekitar secara turun temurun. Keberadan Sendang Pucung dan Gedong juga mencerminkan eksistensi wilayah Platarejo dari sejarah Jawa. Sebenarnya masih banyak cerita lain yang ada di desa Platarejo. Namun yang akan kita bahas di sini adalah cerita dibalik Sendang Pucung dan Gedong saja.